Selasa, 08 November 2011

Moral dan Etika

A.    Pengertian Moral dan Etika
Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan. Bertingkah laku baik, bagi peserta didik seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berarah kepada keluarga, guru dan teman.
Etika ialah studi tentang cara penerapan hal yang baik bagi hidup manusia yang menurut Solomon, 1984:2, mencakup dua aspek:
1.      Disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan pembenarannya.
2.      Nilai-nilai hidup nyata dan hukum tingkah laku manusia yang menopang nilai-nilai tersebut.
Makna atau arti etika lebih mengarah pada tindakan yang sadar dan disengaja. Istilah etika ditinjau dari segi makna atau arti, hampir sama dengan moral, tetapi dalam pemakaian ilmiah, moral biasanya hanya menyangkut kebaikan atau keburukan secara lahiriah atau kelihatan dari apa yang sebenarnya terjadi. Jadi etika adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sebagai hasil yang tegas berdasarkan analisa dan akal budi yang menyangkut pemikiran sistematik tentang kelakuan, motivasi dan keadaan batin yang menyadarinya.
Untuk melihat sikap batin maupun perbuatan lahir dibutuhkan suatu alat, yakni ukuran moral berdasarkan pengalaman dan pengamatan, kiranya daapt kita katakana bahwa sekurang-kurangnya kita mengenal adanya dua ukuran yang berbeda, yakni ukuran yang ada dalam hati kita dan ukuran yang dipakai oleh orang lain waktu mereka menilai diri kita.

B.     Perkembangan Moral Anak
Anak Indonesia memiliki perkembangan moral yang tidak jauh berbeda dengan anak didunia pada umumnya. Faktor-faktor pembentuk munculnya perbedaan moral manusia diantaranya kenyataan hidup, tantangan yang dihadapi dan harapan yang dicita-cita oleh komunitas manusia itu sendiri. Masalah yang paling penting dalam pendidikan moral bagi anak Indonesia adalah bagaimana upaya kita sebagai seorang guru atau orang tua agar setiap perbedaan yang muncul dapat kita arahkan menjadi suatu materi pendewasaan sikap dan perilaku anak dalam sosialisasinya. Tidak ada salahnya kita sisipkan pendidikan yang sesuai dengan tingkat dan pemahaman mereka.

C.    Pendekatan dan Metode dalam Penanaman Nilai Moral Kepada Anak Usia Dini.
Metode dan pendekatan seringkali digunakan secara bergantian, bahkan keduanya seringkali dikaburkan atau disamakan dalam penggunaannya. Keduanya sebenarnya memiliki sedikit perbedaan yang bisa dijadikan untuk memberikan penegasan bahwa kedua istilah tersebut memang berbeda. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W. J. S. Poerwadarminta edisi III (2007:275) pendekatan memiliki arti hal yang (perbuatan, usaha) mendekati atau mendekatkan. Sedangkan menurut Kamus Bahasa Inggris arti pendekatan adalah jalan untuk melakukan sesuatu (John M. Echols, 2002:35). Dari dua arti tersebut dapat dipahami bahwa pendekatan setidaknya mengandung unsur sebagai suatu kegiatan yang meliputi: proses perjalanan waktu, upaya untuk mencapai sesuatu dan dapat pula memiliki ciri sebagai sebuah jalan untuk melakukan sesuatu. Terkait dengan hal tersebut di atas, tepat kiranya sebagai pendidik ataupun orang tua memahami bahwa untuk menyampaikan sesuatu pesan pendidikan diperlukan pemahaman tentang bagaimana agar pesan itu dapat sampai dengan baik dan diterima dengan sempurna oleh anak didik. Untuk mencapai ketersampaian pesan kepada anak didik tentunya seorang pendidik atau orang tua harus memiliki ataupun memilih keterampilan untuk menggunakan pendekatan yang sesuai dengan pola piker dan perkembangan psikologi anak.

 D.    Pengaruh Pendidikan Etika Terhadap Anak Didik
Menurut pendapat Akhmad Sudrajad, pengaruh pendidikan etika terhadap anak didik, dengan pendidikan etika dapat memungkinkan anak didik:
1.      Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.
2.      Menghargai keanekaragaman
3.      Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kredit, inovatif dan bijaksana.
4.      Menunjukkan kemampuan menganalisis, memecahkan masalah dan dalam kehidupan secara bermatabat.
5.      Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab dan bijaksana.
6.      Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dalam negara Kesatuan Republik Indonesia dengan saling menghargai.
7.      Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis dengan bahasanya dan bakatnya dengan penuh sopan santun.
8.      Menguasai pengetahuan yang diperlukan dengan penuh arif dan bijaksana.
Dari pernyataan tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa pendidikan etika besar pengaruhnya terhadap anak didik, termasuk pencapaian  keberhasilan dalam hidupnya anak didik.

E.     Pengaruh HP bagi Anak Didik
Perkembangan teknologi semakin masyarakat di kalangan anak didik. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi orang itu, karena punya anak yang tidak ketinggalan zaman. Orang tua menyadari akan pentingnya HP bagi anaknya dengan berbagai alasan. Sehingga HP, dewasa ini bukan barang  mewah lagi atau bukan keutuhan sekunder, melainkan kebutuhan primer. HP dipergunakan untuk hal-hal pelayanan, transaksi bisnis dan promosi.
Perkembangan teknologi semakin  meningkat, fungsi HP semakin meluas bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga dipergunakan dalam urusan lain seperti : SMS, MP3, video, kamera, record, sehingga HP menjadi multimedia. Siapa tak tertarik olehnya?
Keberhasilan HP menggoroti pikiran orang tidak disadari imperialisme budaya pun merajalela. Kini HP adalah sukunya anak didik. Hampir semua anak didik mengantungi HP. Mereka merasa PD dengan HP dan seolah-olah menyatakan dirinya “saya orang modern, saya orang teknologi”. Budaya tradisional semakin jauh ketinggalan oleh gaya hidup mewah.
Etika oleh filsafat Yunani besar Aristoteles (384-322 SM) sudah dipakai untuk menunjuk filsafat moral. Secara etimologi berarti adat, kebiasaan. Untuk kasus di atas pengertian etika secara etimologi nampaknya belum cukup, maka ada penjelasan lain yang lebih koperensif tentang pengertian etika yaitu:
1.      Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
2.      Kumpulan asas atau nilai moral (kode etik)
3.      Ilmu tentang yang baik atau buruk.
Kalau berorientasi pada teori belajar hakekat belajar adalah adanya perubahan tingkah laku. Pengalaman siswa bagian dari proses pembelajaran, kemampuan menggunakan HP juga bagian dari pembelajaran. Tetapi perubahan tingkah laku atau perilaku yang bagaimana yang diinginkan dalam pendidikan? Untuk itu menjawabnya adalah etika, etika moral seorang siswa. Jadi tujuan pendidikan atau pembelajaran yang dimaksud adalah perubahan tingkah laku yang beretika.

F.     Pengembangan Etika dan Moral Siswa
Dalam kehidupan manusia seorang pendidik mempunyai adil pada proses pembentukan karakter. Guru memiliki makna “dipercaya dan dicontoh”. Secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter pada peserta didiknya. Oleh karena itu, profil guru seharusnya memiliki sifat-sifat yang membawa peserta didiknya kearah karakter atau etika yang kuat atau baik.
Makna di atas, dapat memberikan persepsi mengenai makna dari guru itu sendiri. Sebagai guru dituntut untuk profesional memberikan makna bagi sarjana pendidikan yang akan menjadi penopang estafet mendidik anak bangsa untuk memberikan suatu realita contoh dari diri mereka. Jika moral dan etika buruk, maka buruk juga sikap guru di mata anak didiknya dan terkadang anak didik menjadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari mereka, untuk mencapai etika dan moral yang baik kepada siswa. Sudah selayaknya guru yang profesional mampu mengkontruksikan kembali perencanan pendidikan yang dilakukan kepada anak didik untuk mendapatkan apresiasi yang baik dari anak didik. Maka terlebih dahulu guru membenahi moral dan etika mereka dihadapan anak didik dan bukan menjadikan moral dan etika sebagai topeng. Karena jika etika dan moral hanya dijadikan sebagai topeng. Maka suatu saat etika dan moral buruk kembali dan merusak tatanan sebelumnya sehingga menjadikan topeng baik menjadi topeng buruk.

1 komentar:

  1. Pendidikan etika dan budi pekerti perlu dipertegas lagi dalam pengajarannya karena perobahan dalam tingkah laku yang menjurus ke hal yang negatif karena pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini. Pendidikan etika dan budi pekerti banyak diajarkan dalam mata pelajaran agama.

    BalasHapus